Banyak Benda Bersejarah Aceh Tersimpan di Luar Negeri

BANDA ACEH - Masih banyak benda bersejarah milik Aceh, namun tersebar di berbagi tempat, seperti museum Belanda, Malaysia dan milik koleksi pribadi orang yang gemar menyimpan dan menyelamatan benda bersejarah milik Aceh itu.
Demikian disampaikan Koordinator bagian koleksi Museum Negeri Aceh, Warningsih, pada Analisa, Sabtu (15/5) di Banda Aceh.
Banyak benda-benda bersejarah Aceh yang dibawa ke negara luar pada masa penjajahan dahulu belum juga dikembalikan.
Sebelumnya, Gubernur Aceh Irwandi Yusuf dan Wakil Gubernur Aceh Muhammad Nazar bertekad mengembalikan benda-benda bersejarah itu kembali ke Aceh.Hanya saja, sampai saat ini, belum ada benda bersejarah yang dikembalikan untuk disimpan di Museum Aceh.
Menurut Warningsih, hal itu sebenarnya merupakan tanggung jawab dinas terkait untuk bisa mengembalikan benda yang berada di luar Aceh agar bisa kembali.

Dikatakan, setiap koleksi benda bersejarah itu, mempunyai nilai dan makna tersendiri. Barang koleksi museum memiliki nilai sejarah tersendiri dan terbagi dalam sepuluh jenis yaitu geologi, arkeologi, etnografi, historika, keramik, mata uang, filologika, seni rupa, teknologika dan biologika.

Warningsih mengungkapkan, koleksi pedang Aman Nyerang asal Gayo ini merupakan, pedang yang dikembalikan oleh ahli waris Letnal Jordan, seorang tentara Belanda yang berhasil merampas pedang itu saat perang kemerdekaan.

"Pedang tersebut diserahkan ke Aceh karena wasiat dari Letnan Jordans sebelum meninggal dunia," jelas warningsih.

Dikisahkan, berdasarkan sejarah, pedang ini adalah milik Aman Nyerang yang direbut oleh pasukan Belanda dibawah pimpinan Letnan Jordans di hulu sungai Serbajadi Tanoh Gayo.

Aman Nyerang yang tidak mau menyerah pada Belanda memilih mengembara di hutan belantara selama 20 tahun sampai jenggotnya panjang dan berwarna abu-abu.

Setelah persembunyian dan identitasnya telah diketahui maka pada 3 oktober 1922 dia disergap dan terbunuh. Pedang tersebut dibawa ke Belanda oleh Letnan Jordans dan menjelang akhir hayatnya Jordans berpesan pada putrinya agar pedang tersebut dikembalikan ke Aceh untuk disimpan ke Museum Negeri Aceh.

Pada 2000 Letnan Jordans meninggal dunia. Putrinya melaksanakan wasiatnya dan menyerahkan pedang tersebut melalui pengurus Yayasan Dana Peucut di Belanda kepada Gubernur Abdullah Puteh pada 14 maret 2003.

Warningsih yang juga akrab disapa Edeh menambahkan, selain itu benda bersejarah yang menarik saat ini yaitu Tombak Meujenggot. Menurut sejarah tombak tersebut adalah senjata yang digunakan Sultan Aceh saat berperang melawan para penjajah Belanda.

"Selain itu juga beberapa bendera yang digunakan oleh angkatan perang Aceh saat melawan penjajah Belanda menjadi koleksi kita," jelas Edeh.

Benda-benda bersejarah tersebut, lanjut Edeh, dirawat dan dilestarikan oleh Museum Negeri Aceh dengan cara memperbaiki yang mulai rusak.

Selain itu juga terus ikut serta dalam pameran-pameran baik tingkat kabupaten, regional (Sumatera) dan nasional. (Analisa)

Komentar (1)

Can I just say what a

Can I just say what a reduction to seek out someone who truly knows what theyre speaking about on the internet. You undoubtedly know easy methods to carry a difficulty to mild and make it important. More folks have to read this and understand this aspect of the story. I cant imagine youre not more well-liked since you definitely have the gift.
Cheap day mg next tramadol snoot Xanax Fabricator Tramadol online cod howitzer Levitra professor

You are here